Selasa, 12 April 2016

ABRAHAM MASLOW


1.      Perkembangan Kesehatan Mental
Maslow berpendapat bahwa manusia dari sejak lahir telah memiliki kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, kebutuhan-kebutuhan tersebut akan saling tumpang tindih sepanjang perjalanan kehidupan manusia untuk terus dipenuhi hingga manusia selalu terdorong dalam setiap perilakunya untuk mencapai kepuasan dari setiap kebutuhan. Semakin dewasa seseorang, maka semakin besar kemungkinan ia untuk mencapai tahap aktualisasi diri yang merupakan puncak dari kebutuhan dasar.
2.      Kepribadian Sehat
Maslow memiliki pandangan bahwa orang yang memiliki kepribadian sehat adalah orang yang di dalam dirinya terdapat dorongan-dorongan yang menuntutnya untuk memenuhi dorongan tersebut. Berbagai dorongan (motif) tersebut merupakan kebutuhan manusia sepanjang hidupnya dan bersifat hierarkis dimana kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah harus terpenuhi dahulu sebelum memenuhi kebutuhan pada tingkat yang lebuh tinggi.

Hierarki motif tersebut disebut Hierarki Kebutuhan – Maslow, tertera pada gambar di samping. Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang paling tinggi, orang yang sehat secara psikologis, menurut Maslow, akan berjuang untuk mencapai aktualisasi diri bila kebutuhan-kebutuhan yang dibawahnya telah terpuaskan. Maslow menjabarkan beberapa sifat yang terdapat pada orang-orang yang telah mengaktualisasikan diri, yakni :
a.       Mengamati realitas secara efisien
b.      Penerimaan umum atas kodrat, orang lain, dan diri sendiri
c.       Spontanitas, kesederhanaan, kewajaran
d.      Fokus pada masalah-masalah di luar diri mereka
e.       Kebutuhan akan privasi dan independensi
f.       Berfungsi secara otonom
g.      Apresiasi yang senantiasa segar
h.      Pengalaman-pengalaman mistik atau “puncak”
i.        Minat sosial
j.        Hubungan interpersonal
k.      Struktur watak demokratis
l.        Perbedaan antara sarana dan tujuan, antara baik dan buruk
m.    Perasaan humor yang tidak menimbulkan permusuhan
n.      Kreativitas
o.      Resistensi terhadap inkulturasi
3.      Konsep Kepribadian
Maslow mengemukakan teori kepribadian yang disebutnya sebagai teori Holistik-Dinamis yang mana dalam teori tersebut dibuat berdasarkan beberapa asumsi dasar mengenai motivasi. Asumsi-asumsi dasar tersebut adalah :
·         Pertama, Maslow mengadopsi sebuah pendekatan yang menyeluruh pada motivasi, yakni melihat keseluruhan dari motif seseorang, bukan hanya melihat satu aspek saja.
·         Kedua, motivasi merupakan sesuatu yang kompleks yang terdiri dari beberapa hal, berarti perilaku manusia dapat muncul dari beberapa motivasi yang terpisah.
·         Ketiga, manusia berulang kali termotivasi oleh berbagai kebutuhan, ketika satu kebutuhan terpenuhi maka kebutuhan tersebut akan berkurang kekuatannya dan digantikan oleh tuntutan kebutuhan lain.
·         Keempat, seluruh manusia di berbagai kultur di dunia dimotivasi oleh berbagai kebutuhan dasar yang sama.
·         Terakhir, kebutuhan-kebutuhan dapat dibentuk menjadi sebuah hierarki.
Berdasarkan asumsi dasar tersebut, maka disusunlah hierarki kebutuhan Maslow. Terdapat 5 kebutuhan dasar yang menyusun hierarki tersebut dan kebutuhan-kebutuhan ini memiliki karakter mendorong/memotivasi sehingga disebut kebutuhan konatif.
a.       Kebutuhan Fisiologis (physiological needs)
b.      Kebutuhan akan Keamanan (safety needs)
c.       Kebutuhan akan Cinta dan Keberadaan (love and belongingness needs)
d.      Kebutuhan akan Penghargan (esteem needs)
e.       Kebutuhan akan Aktualisasi Diri (self-actualization)
Kebutuhan dasar tersebut bersifat universal, artinya setiap manusia memiliki kebutuhan tersebut di berbagai kultur mana pun. Adapun sifatnya yang hierarkis menjadikan kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang paling dasar yang pertama kali menuntut untuk dipenuhi, hingga aktualisasi diri adalah kebutuhan paling tinggi dari manusia, namun tidak semua manusia dapat mencapai taraf aktualisasi diri karena kebutuhan-kebutuhan di bawahnya boleh jadi belum terpuaskan. Selain kebutuhan konatif, terdapat pula kebutuhan berikut :
·         Kebutuhan Estetika
Kebutuhan estetika tidak bersifat universal, namun banyak orang di berbagai kultur yang menyukai keindahan, bila kebutuhan akan keindahan ini tidak terpenuhi maka mereka bisa saja merasa sakit baik fisik maupun psikologis.
·         Kebutuhan Kognitif
Kebutuhan kognitif mendukung terpenuhinya 5 kebutuhan konatif, kebutuhan kognitif meliputi keinginan untuk mengetahui, memecahkan misteri, memahami, dan sebagainya. Seseorang untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya harus mengetahui bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut dengan benar.
·         Kebutuhan Neurotik
Kebutuhan neurotik merupakan merupakan tahap tidak produktif dimana seseorang memupuk gaya hidup yang tidak sehat dan tidak ada keinginan untuk mengaktualisasi diri
Kriteria untuk Aktualisasi Diri
Terdapat beberapa kriteria bagi seseorang untuk mengaktualisasikan diri :
-          Bebas dari psikopatologi
-          Telah terpenuhi hierarki kebutuhan dasar (kebutuhan-kebutuhan di bawah level aktualisasi diri)
-          Menjunjung nilai-nilai B*
-          Menggunakan seluruh bakat, kemampuan, dan potensi
*Maslow menyatakan bahwa orang yang mengaktualisasikan diri termotivasi oleh prinsip hidup yang abadi yang ia sebut sebagai “B-values” atau nilai-nilai B atau nilai-nilai ‘Being’ (kehidupan).
Nilai-nilai B merupakan level tertinggi dari kebutuhan (metamotivasi), hal ini membedaka orang-orang yang perkembangan psikologisnya berhenti setelah mencapai esteem needs dengan orang-orang yang mengaktualisasikan diri, berikut beberapa nilai-nilai B yang dikemukakan Maslow : kejujuran, keindahan, kebaikan, keutuhan, perasaan hidup, keunikan, kesempurnaan, kelengkapan, keadilan, kesederhanaan, totalitas, membutuhkan sedikit usaha, humor, dll. Maslow berpendapat bahwa ketika metamotivasi tidak terpenuhi maka akan menyebabkan metapatologi yakni kurangnya filosofi hidup yang bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
Feist, dan Feist. (2010). Teori kepribadian edisi 7. Jakarta : Salemba Empat.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan : model-model kepribadian sehat. Yogyakarta : Kanisius.
Sumber gambar :

Minggu, 10 April 2016

CARL ROGERS

1.      Perkembangan Kesehatan Mental
Rogers dengan teori kepribadian Person-centered-nya menjelaskan bagaimana perkembangan yang seharusnya dialamai seseorang agar memiliki kepribadian yang sehat dalam artian kondisi mentalnya berarti sehat pula. Berikut uraiannya :
Masa yang paling penting dalam membentuk kondisi psikologis yang baik dari seseorang adalah masa kanak-kanak, yang menjadi syarat utama bagi terbentuknya kepribadian sehat adalah adanya unconditional positive regards pada masa tersebut dimana anak menerima cinta dan kasih sayang tanpa syarat dari orang tua. Orang tua memberikan cinta yang tulus dan penghargaan tanpa syarat untuk anak sehingga anak benar-benar merasa berharga, anak tidak dituntut untuk menjadi sempurna dengan tidak melakukan kesalahan sedikit pun melainkan anak diberi nasihat yang membangun bila melakukan kesalahan.
Bila seorang anak tumbuh dengan perasaan unconditional positive regards, maka ia tidak akan bertingkah laku defensif. Tingkah laku defensif adalah berbagai perilaku yang anak lakukan untuk menghindari kesalahan yang akan mengundang celaan atau cemooh dari orang tua. Bila anak tidak bertingkah laku defensif, maka tidak akan terbentuk pula ketidakharmonisan (incongruence) dalam dirinya. Anak dengan masa kecil seperti ini tidak akan memiliki pengalaman yang mengancam, sehingga ia akan bebas untuk menjadi orang yang mengaktualisasikan diri dan mengembangkan seluruh potensi dalam diri. Bila ia dapat mengaktualisasikan diri, maka ia akan menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya.
2.      Kepribadian Sehat
Rogers berpendapat bahwa orang yang sehat secara psikologis adalah ia yang dalam dirinya terdapat suatu dorongan/motivasi berupa aktualisasi. Aktualisasi tersebut mendorong seseorang untuk terus berproses dalam kemajuan sehingga diri kita akan terus berkembang dan meningkat secara kualitas. Aktualisasi tersebut pada awal kehidupan seseorang berupa aktualisasi dari segi fisiologis dimana kita berkembang dan belajar untuk mematangkan fungsi-fungsi fisik, misalnya : belajar berjalan. Setelah aktualisasi fisiologis, maka akan beralih menjadi aktualisasi psikologis dimana proses ini berlangsung sepanjang kehidupan hingga seseorang bisa menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. Jadi, pada intinya, seseorang dikatakan memiliki kepribadian yang sehat, menurut Rogers, bila dalam diri orang tersebut terdapat dorongan untuk terus maju, melejitkan potensi yang ada dalam diri, meraih tujuan-tujuan hidup hingga menjadi manusia yang benar-benar fungsional.
Adapun terdapat beberapa ciri khas dari orang yang berfungsi sepenuhnya, yakni :
a.      Keterbukaan pada pengalaman : seseorang bersifat fleksibel terhadap pengalaman yang didapat dari kehidupan, ia memberi kesempatan pada pengalaman hingga terlahir persepsi dan ungkapan baru.
b.      Kehidupan eksistensial : orang yang benar-benar sadar atau hidup dalam kehidupannya, ia tidak memanipulasi pengalaman.
c.       Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri : berperilaku sesuai apa yang dirasa benar, tidak mengutamakan faktor rasional dan intelektual.
d.      Perasaan bebas : memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak.
e.       Kreativitas : bertindak dengan bebas dan menyusun tindakan, ide, dan rencana yang bersifat konstruktif.
3.      Konsep Kepribadian
Rogers mengembangkan teori kepribadian yang disebut dengan person-centered atau teori yang berpusat pada pribadi, dalam dunia terapeutik, teori ini juga dikenal dengan metode client-centered theraphy. Berikut adakah beberapa konsep umum dalam teori kepribadiannya :
a.      The Self and Self-actualization (Diri dan Aktualisasi Diri)
Self atau diri adalah perasaan “aku” atau “diriku” (“I” or “me”) yang ada pada tiap individu. Aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran, dimana seseorang dalam mengaktualisasikan dirinya ingin menjadikan dirinya berfungsi semaksimal mungkin.
Rogers membagi dua sub-sistem :
-          Self-concept
Konsep diri adalah seluruh aspek yang disadari oleh individu mengenai dirinya.
-          Self-ideal
Diri ideal adalah pandangan seseorang atas diri yang diharapkannya, ia menggambarkan bagaimana seharusnya dirinya tersebut menjadi. Seseorang yang sehat secara psikologis adalah yang hanya terdapat sedikit perbedaan antara self-concept dengan self-ideal-nya.
b.      Kesadaran
Rogers mendefinisikan kesadaran sebagai representasi simbolik dari sebagian pengalaman kita. Ia juga membagi tingkat kesadaran menjadi :
1.    Beberapa kejadian dialami di bawah batas kesadaran dan biasanya akan diabaikan atau disangkal
2.    Beberapa pengalaman akan disimbolisasikan secara akurat dan dimasukkan ke dalam self-concept.
3.    Beberapa pengalaman diterima namun telah mengalami distorsi.
c.       Menjadi Seorang Manusia
Proses yang dibutuhkan untuk menjadi seorang manusia yang sebenarnya adalah seseorang harus membuat “kontak” dengan orang lain. Ketika kita menjalin kontak positif dengan orang lain (berupa kebutuhan untuk dicintai, disukai, diterima) lalu orang lain menghargai kita, maka kita akan mendapatkan penghargaan positif. Penghargaan positif akan meunculkan penghargaan diri yang positif, dalam artian apabila orang lain telah menghargai kita secara positif maka kita akan mengembangkan rasa menghargai diri sendiri.
d.      Hambatan Kesehatan Psikologis
Beberapa hal yang menjadi hambatan seseorang untuk menjadi sehat secara psikologis, terdapat sebagian orang yang mengalami hal-hal berikut hingga menghambat perkembangan kesehatan psikologisnya :
-          Penghargaan bersyarat : seseorang beranggapan bahwa mereka hanya akan dicintai bila memenuhi persyaratan atau harapan dari orang-orang di sekitarnya.
-          Inkongruensi : ketidakseimbangan antara konsep diri dengan pengalaman.
-          Sikap defensif : bertindak secara hati-hati untuk melindungi struktur konsep diri yang telah terbentuk, bertindak untuk menghindari kesalahan agar penghargaan bersyarat terpenuhi.
-          Disorganisasi : tidak adanya konsistensi dalam berperilaku karena adanya inkongruensi dalam dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Feist, dan Feist. (2010). Teori kepribadian edisi 7. Jakarta : Salemba Empat.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan : model-model kepribadian sehat. Yogyakarta : Kanisius.

Sabtu, 09 April 2016

GORDON W ALLPORT


1.      Perkembangan Kesehatan Mental
Allport tidak menjelaskan secara rinci bagaimana perkembangan kepribadian atau kesehatan mental seorang individu, namun ia memberikan beberapa tahapan yang dilalui individu dalam pembentukan kepribadiannya :
·           0-3 Tahun
Bayi pada masa ini mengembangkan sense of bodily, dimana dia merasakan eksistensi dirinya. Pada masa ini, peran bahasa amat penting dan hubungan antara ibu dan bayi menentukan bagaimana kualitas munculnya “diri” bayi tersebut pada tahap selanjutnya. Bila bayi menerima keamanan dan kasih sayang yang cukup, maka bayi akan mengalami pertumbuhan psikologis yang positif.
·           4-6 Tahun
Pada masa ini, anak mulai merasakan adanya keterkaitan dengan lingkungan. Dimana ia menerima lingkungan sebagai bagian dari dirinya. Pada masa ini juga anak sudah membentuk gambaran diri yang terkait dengan penanaman nilai-nilai, tanggung jawab moral, tujuan dan pengetahuan diri.
·           6-12 Tahun
Pada masa ini muncul kesadaran diri, anak mulai mengenal kemampunan diri mengatasi persoalan-persoalan dengan alasan dan gagasan karena anak bergerak dari lingkungan keluarga ke masyarakat.
·           Remaja
Pada masa ini, individu mulai membuat kerangka tujuan hidupnya sambil terus mengembangkan proprium dalam dirinya yang akan membentuk identitas diri yang sebenarnya.
·           Dewasa
Orang dewasa yang matang adalah mereka yang dapat mengontrol dirinya secara terorganisir untuk mencapai tujuan-tujuan..
2.      Kepribadian Sehat
Allport berpendapat bahwa orang yang matang dan sehat adalah mereka yang tidak dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar, melainkan mereka dapat secara penuh mengontrol dirinya dengan sadar dan rasional serta dapat mengontrol kekuatan-kekuatan yang ada di dalam dirinya. Pendapatnya tersebut berlawanan dengan Freud –bahwa manusia dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar (id, ego, super ego). Allport juga menyatakan bahwa seseorang yang matang, dalam artian memiliki kepribadian yang sehat adalah mereka tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak.
Pada tahun 1961, Allport memberikan 6 kriteria kepribadian yang matang, yakni :
·           Perluasan perasaan diri : pribadi yang sehat akan mengerti akan dirinya sendiri dan senantiasa mempunyai minat sosial yang tinggi dimana ia tidak bersifat egosentris. Ia mampu terlibat dalam berbagai aktivitas yang tidak terpusat pada dirinya sendiri.
·           Hubungan yang hangat dengan orang lain : pribadi yang sehat mampu membangun hubungan yang baik dengan orang lain, ia tidak memaksakan kehendak diri sendiri kepada orang lain, ia dapat mencintai orang lain dengan cara yang dewasa tanpa bersifat posesif maupun egois. Hubungan yang hangat dengan orang lain merupakan salah satu langkah dalam memperluas perasaan akan diri / “self”.
·           Keamanan emosional / penerimaan diri : pribadi yang sehat tidak akan fokus pada kekurangan dirinya, maksudnya ia tidak akan merasa kecewa akan kekurangan yang ada pada dirinya hingga lantas membuatnya frustasi. Ia akan menerima keunikan dirinya dan apabila mengalami kegagalan, ia mampu melakukan regulasi emosi yang baik.
·           Persepsi realistis : pribadi yang sehat akan benar-benar “hadir” dalam kehidupan, ia tidak memasukkan fantasi dalam kehidupan nyata maupun menjadikan kehidupan nyata sebagai fantasi.
·           Insight dan humor : pribadi yang sehat memahami betul bagaimana dirinya dan memiliki selera humor yang tidak kasar (maksudnya, ia tidak menjadikan tema-tema yang tidak pantas sebagai lelucon untuk membuat orang lain tertawa).
·           Filosofi kehidupan yang integral : pribadi yang sehat memiliki pandangan yang jelas mengenai tujuan hidup mereka

3.      Konsep Kepribadian
Allport memiliki konsep kepribadian yang disebut sebagai Psikologi Individual. Allport menjelaskan struktur kepribadian yang menekankan kekhasan individu.
a.      Struktur Kepribadian
Menurut Allport, struktur terpenting dalam kepribadian manusia adalah segala sesuatu yang menjadikan pribadi tersebut unik yaitu disposisi personal. Apa yang dimaksud dengan disposisi personal? Berikut penjelasannya :
·           Disposisi Personal
Disposisi personal adalah struktur neuropsikis yang khas yang ada pada tiap individu yang menentukan bagaimana seseorang merespon suatu stimulus dalam bentuk perilaku. Disposisi personal terdiri dari berbagai tingkatan :
1.      Disposisi pokok
Karakteristik yang sifatnya khas dan hanya ada pada satu orang saja. Penjelasan karakteristik tersebut hanya dapat diterapkan untuk satu orang saja dan tidak bisa diterapkan untuk orang lain, misalnya : karakter sadistis pada Maquise de Sade, idealistis pada Don Quixote, dsb.
2.      Disposisi sentral
Bila disposisi pokok hanya dimiliki sebagian orang, maka disposisi sentral dimiliki oleh semua orang. Disposisi sentral tersebut mencakup 5-10 karakteristik paling menonjol yang mendeskripsikan diri seseorang.
3.      Disposisi sekunder
4.      Disposisi sekunder lebih banyak dalam hal kuantitas dibanding disposisi sentral. Semua orang mempunyai disposisi sekunder namun tidak menjadi bagian inti kepribadian, namun disposisi tersebut sering muncul sebagai sebab dari perilaku spesifik seseorang
·           Disposisi Motivasi dan Ekspresif
Disposisi motivasi adalah disposisi yang dialami dengan sangat kuat dan memunculkan tindakan. Sedangkan disposisi ekspresif adalah disposisi yang dialami tidak terlalu kuat dan mengarahkan tindakan.
b.      Proprium
Proprium adalah inti kepribadian dari seseorang, dimana hal atau karakteristik tersebut yang didefinisikan oleh seseorang sebagai “Inilah saya!”. Proprium hanya meliputi perilaku dan karakteristik yang penting dan sentral dalam kehidupan seseorang. Proprium bukan merupakan keseluruhan kepribadian, perilaku yang tidak bersifat proprium adalah :
-          Dorongan dan kebutuhan dasar yang bisa dipenuhi tanpa banyak kesulitan.
-          Kebiasaan-kebiasaan umum, misalnya : menyapa orang lain.
-          Perilaku sehari-hari, misalnya : menggosok gigi.

DAFTAR PUSTAKA
Feist, dan Feist. (2010). Teori kepribadian edisi 7. Jakarta : Salemba Empat.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan : model-model kepribadian sehat. Yogyakarta : Kanisius.

Sumber gambar: orisval.wordpress.com

Kamis, 24 Maret 2016

HUBUNGAN ALIRAN BESAR PSIKOLOGI DENGAN KESEHATAN MENTAL

1.    PSIKOANALISA
Psikoanalisa merupakan salah satu aliran besar (mazhab) dalam Psikologi yang memerhatikan struktur jiwa manusia. Pencetus aliran ini adalah Sigmund Freud. Fokus studi aliran ini adalah totalitas kepribadian menusia bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah. Menurut aliran ini, perilaku manusia dianggap sebagai hasil interaksi sub-sistem dalam kepribadian manusia, yaitu :
-          Id, yaitu bagian kepribadian yang menyimpan dorongan dorongan biologis manusia merupakan pusat insting yang bergerak berdasarkan prinsip kesenangan dan cenderung memenuhi kebutuhannya, bersifat egois, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani yang terdiri dari 2 bagian :
o   Libido : insting reproduktif
o   Thanatos : insting destruktif dan agresif
-          Ego, berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Egolah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud rasional. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas.
-          Super ego, yaitu unsur yang menjadi polisi kepribadian, mewakili sesuatu yang normatif atau ideal. Superego disebut juga sebagai hati nurani, merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultur masyarakat. Superego memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang bertentangan dengan norma sosial dan yang ada di alam bawah sadar.
o   Hubungan dengan Kesehatan Mental
Berdasarkan aliran psikoanalisa, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia dikatakan sehat secara mental ketika ia mampu menyeimbangkan ketiga struktur kepribadian atau struktur jiwa di dalam dirinya (id, ego, superego). Bila manusia dapat menyeimbangkan ketiga struktur tersebut, maka ia dapat berperilaku secara adaptif, artinya dapat menyesuaikan dengan lingkungan secara seimbang. Tidak terlalu agresif (id yang dominan) maupun tidak terlalu rigid (superego yang dominan), melainkan dapat menyeimbangkan ketiganya dengan regulasi diri yang baik.
2.      HUMANISTIK
Humanistik adalah mazhab ketiga dalam Psikologi yang melengkapi aspek-aspek dasar dari aliran psikoanalisa dan behaviorisme dengan memasukkan aspek positif yang menentukan seperti cinta, kreativitas, nilai makna dan pertumbuhan pribadi. Asumsi yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan, bahwa manusia bukanlah sekadar pelakon tetapi pencari makna kehidupan. Selanjutnya konsep yang menjadikan aliran humanistik berkembang luas adalah konsep dari tokoh aliran ini yaitu Abraham Maslow.
-          Teori Hierarki Kebutuhan - Abraham Maslow
Maslow mengungkapkan hakikat dari konsepsi yang baru berkembang tentang manusia yang sehat secara psikiatris :
o   Pertama, dan yang paling penting adalah keyakinan yang kuat bahwa manusia memiliki kodratnya sendiri yang hakiki, yakni bahwa ia memiliki berbagai kebutuhan, kapasitas, dan kecenderungan yang bersifat genetik, beberapa di antaranya bersifat khas dari spesies manusia dan beberapa lainnya bersifat unik untuk masing-masing individu.
o   Kedua, terkandung konsepsi bahwa perkembangan yang benar-benar sehat, normal, dan yang dicita-citakan terjadi dalam bentuk mengaktualisasikan kodrat ini, memenuhi potensi-potensi ini, dan dalam perkembangan menuju kematangan mengikuti garis-garis yang diatur oleh kodrat yang tersembunyi, samar-samar, dan yang dilihat kurang hakiki, yang ditumbuh dari dalam dan bukan dibentuk dari luar.
o   Ketiga, psikopatologi pada umumnya disebabkan oleh pengingkaran atau penelantaran, atau pembelokan kodrat manusia yang hakiki.
Jadi, segala sesuatu yang mengakibatkan perkembangan yang diinginkan ke arah aktualisasi kodrat manusia ini adalah baik. Segala sesuatu yang menggagalkan atau menghalangi atau menolak kodrat manusia yang hakiki adalah tak normal/buruk.

Adapun kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hierarki sebagaimana tertera dalam gambar berikut :

o   Hubungan dengan Kesehatan Mental
Dari teori hierarki kebutuhan Maslow, dapat ditarik kesimpulan dan dicari kaitannya dengan kesehatan mental yakni seseorang dikatakan sehat secara mental adalah ketika ia benar-benar menjalani hidup dengan sadar, memaksimalkan potensi yang dimiliki semaksimal mungkin sehingga hidup ini memberikan makna yang eksistensial, tidak sekadar menghabiskan waktu dengan percuma, namun benar-benar menunjukkan keberadaan dan kebermanfaatan dirinya bagi sekitarnya. Selain itu, manusia dikatakan sehat secara mental adalah ketika ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya secara seimbang. Kehidupannya didorong oleh pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut yang sifatnya hierarkis. Bila kebutuhan paling dasar belum terpenuhi, maka ia tidak akan mencoba memenuhi kebutuhan yang ada di atasnya. Sebaliknya, manusia yang sehat secara mental adalah yang terus berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut hingga tercapailah aktualisasi diri dalam kehidupannya.

DAFTAR PUSTAKA
Sumanto, Dr. (2014). Psikologi umum. Jakarta : CAPS.
Hall, Calvin S., Lindzey, Gardner. (1993). Psikologi kepribadian 2 teori-teori holistik (organismik-fenomenologis). Yogyakarta : Kanisius.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan : model-model kepribadian sehat. Yogyakarta : Kanisius.

Kamis, 10 Maret 2016

KONSEP SEHAT DARI BERBAGAI ASPEK

Bila kita mendengar kata “sehat” maka apa yang muncul dalam pikiran dan benak Anda? Apakah tubuh yang kuat dan bugar? Ataukah tampilan fisik yang bersih? Atau malah seseorang yang tidak pernah sakit? Sebagian besar dari kita banyak menyimpulkan atau memaknai konsep sehat hanya sebatas pada kondisi fisik yang prima, padahal bila kita telisik lebih jauh maka makna “sehat” dapat dilihat dari berbagai aspek yang di dalamnya terdapat konsep masing-masing sesuai orientasi konsep tersebut. Berikut beberapa konsep sehat yang saya pahami dari beberapa literatur yang telah saya baca :
A.    Konsep sehat secara fisik
Sehat secara fisik adalah kondisi ketika tubuh manusia dalam keadaan prima, dimana manusia dapat menggunakan fungsi organ-organ tubuhnya secara optimal dan tidak terkena penyakit. Sehat secara fisik juga ditandai dengan seimbangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, gaya hidup yang teratur dimulai dari pola makan, pola tidur, hingga pola aktivitas fisik yang seimbang. Konsep sehat secara fisik adalah konsep yang paling banyak dirujuk oleh masyarakat, karena ketika manusia sehat secara fisik maka hal tersebut dapat langsung terlihat dari tampilan luar dan aktivitasnya sehari-hari, ketika seseorang dalam keadaan sehat secara fisik ia mampu melakukan berbagai aktivitas secara optimal, bahkan bisa dibuktikan secara klinis melalui hasil pemeriksaan dokter yang tidak menunjukkan adanya gangguan penyakit.
B.     Konsep sehat secara emosi
Manusia dikatakan sehat dari segi emosi adalah ketika ia mampu mengendalikan maupun mengekspresikan emosi yang ada dalam dirinya, baik itu emosi positif maupun negatif sepeerti senang, sedih, gembira, takut, marah, jijik, terkejut, dan lain sebagainya. Ia mempunyai kendali penuh dan kebebasan untuk memilih reaksi terhadap segala sesuatu atau permasalahan yang datang menimpa dirinya, seseorang dikatakan sehat secara emosional juga bila tetap mampu bertahan dalam keadaan tertekan sekali pun. Bila seseorang telah sehat secara emosi, maka ia akan mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selain itu terdapat ciri-ciri orang yang sehat secara emosi yakni bebas dari stress, rasa cemas, dan rasa tidak aman.
C.    Konsep sehat secara intelektual
Bila kita berbicara mengenai aspek intelektual, maka pikiran kita akan langsung terpaut pada kemampuan berpikir ataupun prestasi seseorang di bidang akademik. Padahal bila kita mampu melihat lebih luas, aspek intelektual bukan hanya mengenai pencapaian akademik seseorang. Konsep sehat secara inetelktual adalah pandangan menyeluruh tentang bagaimana seseorang mampu mengoptimalkan kemampuan intelektualnya bukan hanya pada proses akademis tapi juga pada permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang dikatakan sehat secara intelektual adalah ketika ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-          Memiliki daya kreasi yang tinggi
-          Memiliki kemauan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya
-    Tidak mudah berputus asa dalam melakukan sesuatu, ia mampu melihat permasalahan dari berbagai sisi.
-          Mampu memecahkan masalah secara sistematis
Dan masih banyak lagi ciri yang terdapat pada seseorang yang sehat secara intelektual, intinya adalah ia mempunyai pemikiran yang tidak sempit sehingga ia membiarkan dirinya menjadi dinamis dan fleksibel mengikuti setiap peristiwa dalam hidupnya.
D.    Konsep sehat secara spiritual
Manusia dikatakan sehat secara spiritual adalah ketika ia mampu merasakan dan mengungkapkan rasa syukur terhadap Sang Pencipta. Kesyukuran tersebut dapat terlihat dari perilakunya atau ritual keagamaan yang ia jalankan, ia senantiasa meyakini bahwa terdapat andil Tuhan dalam kehidupan yang ia jalani. Selain itu, manusia dikatakan sehat secara spiritual juga apabila jiwanya terhindar dari berbagai penyakit ruhaniah seperti polytheist, atheist, munafik, dan kecenderungan untuk melanggar hukum.
E.     Konsep sehat secara sosial
Bila penjelasan pada aspek-aspek sebelumnya lebih terfokus pada aspek individual, maka sehat secara sosial terfokus pada aspek hubungan interpersonal dalam lingkungan. Manusia dikatakan sehat secara sosial ketika ia mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal yang dapat dilihat dari kemampuan beradaptasinya adalah bila ia bisa membangun dan mempertahankan hubungan dengan orang lain dalam lingkungan dimana ia berada. Selain itu, sehat secara sosial juga ketika seseorang mempunyai rasa empati, mampu mematuhi peraturan yang berlaku dalam masyarakarat dan ia menerima sepenuhnya keberadaan dirinya dan memaksimalkan keberfungsian dirinya dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary Ginanjar. (2001). Kecerdasan emosi dan spiritual. 2001. Jakarta : Penerbit Agra.
Hendrawan, Sanerya. (2009). Spiritual management. Bandung : PT. Mizan Pustaka.
Haryanto, S dan S Nugroho. (2006). Sehat dan bugar secara alami. Jakarta : Niaga Swadaya.

https://nannerl43.wordpress.com/ diakses pada tanggal 08 Maret 2016